Minggu, 31 Januari 2016

Dari Rumah Kembali ke Rumah

Dari Rumah Kembali ke Rumah


Dari rumah kembali ke rumah. Tadinya aku memang ibu rumahtangga alias fulltime-mom. Dan, oleh sebuah kesempatan yang ajaib lalu aku bekerja di sebuah lembaga bimbel dan tes sidik jari sebagai koordinator bimbel. Usia 30 tahun baru merasakan keajaiban dimana mimpi berubah menjadi nyata. Berubahlah pula status fulltime-mom menjadi working-mom.

Pagi, aku mengurus anakku yang saat itu duduk di TK A lalu menjemputnya jam 10 pagi. Setelah itu, aku harus mempersiapkan keberangkatanku ke lembaga tempatku bekerja. Aku masuk kantor pukul 12 siang dan pulang jam 7 malam. Kadang lebih. Aku menitipkan anakku pada ibuku yang rumahnya memang tak jauh.



 Kesenangan bekerja itu pastinya yang pertama adalah punya penghasilan sendiri. Kedua, punya kesempatan untuk mengembangkan potensi diri. Ketiga, pandangan segan akan status sosial di masyarakat sebagai sarjana yang akhirnya bekerja. Keempat, bisa membahagiakan orangtua dengan mengajak beliau menikmati hasil jerih payah kita. Kelima, punya banyak teman yang mengisi hidup kita sehari-hari sehingga kita lebih punya banyak warna dalam hidup. Selebihnya, semua kesedihan yang sering mendera ibu rumahtangga seakan tergerus otomatis.



 Dua tahun berada dalam ritme bekerja yang sama, dilema mulai muncul. Mulai dari soal menitipkan anak ke simbahnya, suasana kantor yang berubah, dan anak yang mulai masuk bangku SD. Suami akhirnya memilihkan opsi aku kembali ke rumah. Jika aku bekerja demi anak, maka aku berhenti juga karena anak.




Aku menjalani hariku setelah bekerja dengan lapang dada. Semua keresahan sepanjang menjadi ibu rumahtangga dahulunya seakan hilang entah kemana. Aku tahu aku tak punya penghasilan sendiri. Jadi, pilihannya adalah kembali hidup sederhana dan aktif memasak. Memasak jelas jauh lebih murah dan sehat. Aku mencoba resep-resep baru yang mudah dan sederhana. Hasilnya, aku share di akun fb ku. Aku bahagia melakukannya.





 
Sama-sama berstatus ibu rumahtangga, kondisi psikis usia 20an dan 30an memang berbeda. Di usia 20an, aku masih ingat diriku yang mudah mendengar dan merasakan apa kata orang. Aku sering merasa aku tak bahagia seperti kebanyakan orang. Kadang, aku menjadi "korban" atas opini negatif orang lain yang harus aku hormati. Aku sulit membela diriku sendiri, apalagi keluargaku. Puncaknya, cobaan rumahtangga. Kami sempat pisah rumah lalu rujuk usai persidangan. Klimaks yang mendewasakan. Terimakasih Tuhan atas cobaan yang mengasah kami. Kembali membahas psikis usia 30an, ternyata semua lebih stabil. Mulai dari kesabaran, problem solving, insting memasak, kecekatan dan cara membawakan diri. Jadi, kalau workmom vs fulltimemom suka berantem dan saling merasa benar, tentunya itu rawan menyerang ibu muda usia 20an. Jujur, aku masa bodoh dengan perang bebuyutan itu di usia sekarang. If you're happy, so what are you fighting for?




Aku sangat menikmati peranku sekarang. Dengan self defence yang lebih baik dan pembawaan lebih tenang, aku mulai belajar melihat situasi dan mengambil sikap. Jangan terus merendah, lemah dan membiarkan kita terjebak dalam situasi buruk yang diciptakan orang lain. Kita dihormati karena kita membawakan diri dengan tuntutan harga diri yang pantas. Berbahagialah dan kecantikan akan terpancar dari dalam begitu indah!




Aku juga mulai lebih banyak ambil sikap ketimbang bicara mendebat untuk sesuatu yang tidak sreg. Usia 20an yang labil memang mendorongku lebih banyak beropini ketimbang action. Tentunya karena gejolak kejiwaan yang selalu ingin semua cepat selesai menurut cara kita tanpa memperhatikan adanya faktor lain yang bersangkutan. Aku belajar menghemat energi bicara dan lebih memilih tuk menentukan sikap yang benar. Tampak diam, padahal aku mengamati. Tampak tak peduli, padahal aku mencari informasi. Tampak tenang, padahal aku siap menyerang. Semua ironi yang mereka lemparkan, aku tangkis dengan komedi.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar